Buluh Perindu

BULUH PERINDU
By Novie Noerman

Aku memandangi seraut wajah murung dihadapanku, seperti memikirkan suatu persoalan yang meresahkan hatinya. Ingin rasanya kuselami dasar hatinya dan mengetahui persoalan apakah itu? Mungkinkah karena kedatangan utusan raja Aceh kemarin? Berita apakah yang ia bawa? Sehingga menggundahkan hati tuanku .
“Inang… inang!”  Panggil tuanku Puteri Cempaka Gading. Aku tersentak dari lamunanku.
“Eh, iya tuanku, ada apa?” Cepat kujawab panggilannya.
“Mengapa Inang memandangiku sedemikian rupa? Adakah yang salah pada diriku?” Tanya tuanku Puteri Cempaka Gading.
“Ah, tidak ada tuanku, sayo hanya sedang berfikir.”
“Apa yang sedang Inang pikirkan?” tanya tuanku ingin tahu.
“sayo…sayo…” Aku ragu.
“Ayolah Inang, katakan saja, jangan takut.” Ia meyakinkanku.
“Tuanku, hari ini sayo lihat tuanku berwajah murung dan resah, seperti memikirkan suatu persoalan yang berat. Apakah karena kedatangan utusan raja Aceh kemarin yang membuat hati tuanku gundah? Begitu beratkah khabar yang ia bawa? Jika tuanku tidak keberatan, berbagilah pada sayo.” Aku ingin tahu.
“Engkau benar Inang, aku memang sedang gundah. Utusan raja Aceh itu membawa lamaran untukku. Raja Aceh ingin menjodohkan aku  dengan putra mahkotanya.” Jelas tuanku Puteri.
“Apakah tuanku menerima lamaran itu?”
“Entahlah Inang, aku tidak tahu, aku tidak bisa memutuskannya sendiri, semua kuserahkan pada Ayahanda, biarlah ia yang memutuskan, mana yang menurutnya baik akan aku turuti. Bukankah setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.” Tegas tuanku puteri. Aku terdiam merenungi ucapan tuanku puteri nan bijak. Tuanku puteri Cempaka Gadingpun juga diam, suasana menjadi sunyi, hanya semilir angin laut yang berhembus ke beranda Istana kerajaan Sungai Serut ini. Kami terhanyut dalam pikiran  masing-masing. Hingga aku angkat bicara memecahkan kesunyian sesaat.
“Tuanku, seandainya lamaran raja Aceh itu diterima oleh tuanku raja Ratu Agung, berarti sebentar lagi tunku puteri akan menjadi permaisuri , dan akan diboyong oleh suami tuanku, pergi meninggalkan kerajaaan ini. Itu berarti kita juga akan berpisah.” Paparku sedih.
“Inang…jangan ucapkan kata-kata itu, Inang telah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, jika nanti aku diboyong suamiku, pasti kuajak Inang turut serta.” Bujuk tuanku puteri. Oh…tuanku memang benar-benar baik hati. Batinku.
                                      ***
Tuanku raja Ratu Agung menerima lamaran dari kerajaan Aceh. Telah pula disepakati hari penyelenggaraan upacara pernikahan, yaitu jatuh pada purnama depan.
Namun, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Purnama belum sampai pada waktunya, tuanku raja Ratu Agung telah mangkat, seluruh rakyat Sungai Serut berkabung, apalagi tuanku Puteri Cempaka gading, ia juga mencemaskan pelaksanaan upacara pernikahannya. Sangat mustahil rasanya melaksanakan upacara pernikahan pada saat kerajaan sedang berkabung. Untuk memberitahukan berita ini pada raja Aceh adalah sangat tidak mungkin. Jarak yang sangat jauh, hanya dapat ditempuh dengan perahu layar yang memerlukan waktu berminggu-minggu, ditambah dengan komunikasi yang tidak lancar.
Untuk mengisi kekosongan pimpinan pemerintahan, diangkatlah salah seorang dari kakak-kakak puteri Cempaka gading, yaitu tuanku anak dalam Muaro Bangkahulu sebagai raja Sungai Serut.
Dua pekan telah berlalu sejak mangkatnya tuanku raja Ratu Agung. Hari ini pasukan kerajaan Aceh datang mengantarkan putra mahkotanya, sesuai dengan rencana semula. Raja Aceh sangat terkejut ketika diberitakan bahwa raja Ratu Agung telah mangkat. Namun raja Aceh mencoba berunding dengan tuanku raja Anak dalam agar pelaksanaan upacara pernikahan dapat dilangsungkan. Namun tuanku raja Anak Dalam menolak tawaran tersebut, bahkan rombongan raja Aceh diminta untuk  meninggalkan kerajaan Sungai Serut. Perbedaan pendapatpun terjadi, dan persengketaan tak terelakkan lagi. Rombongan raja Aceh yang datang pada saat itu tidak menyertai armada perang yang lengkap akhirnya dapat diusir oleh tuanku raja Anak Dalam.
                                      ***
Purnama telah berlalu, rencana pernikahan tuanku Puteri hanyalah tinggal rencana. Rombongan kerajaan Aceh telah kembali ke negerinya dengan perasaan terhina. Namun dengan tidak diduga, rombongan kerajaan Aceh dengan armada perang yang lengkap menyerang Sungai Serut. Perang tak terelakkan lagi, semua rakyat Sungai Serut mengungsi, begitupula keluarga istana.
Aku menemani tuanku puteri dalam pengungsian, menyelamatkan diri dari kejaran pasukan kerajaan Aceh. Dalam pengungsian, kami melintasi daerah Pantai Panjang. Kami menyusuri  pantai hingga akhirnya aku tersentak, kusadari tuanku puteri tidak lagi bersamaku. Aku kehilangan tuanku puteri Cempaka Gading.
“Puteri, tuanku puteri… dimanakah engkau?” panggilku sambil mencari ke sana ke mari.
“Puteri…Puteri…” Kuulangi beberapa kali. Namun tak ada sahutan. Aku cemas dan bingung, akhirnya aku berteriak. “Puteriiiiiii!!!!!”
Aku mengutuki diriku, mengapa aku teledor menjaga tuanku puteri Cempaka Gading. Aku sampai di sebuah muara sungai, lalu kucoba menghulunya. Akhirnya aku terdampar di lembah sunyi yang entah apa namanya. Perahuku tak dapat lagi bergerak, karena terhalang bebatuan sungai, sehingga mau tak mau aku harus turun dari perahuku. Lagipula hari sudah mulai gelap.
Bulan bulat penuh, cahayanya  yang kuning keemasan memancar dari celah-celah rerimbunan pucuk pakis tiang dan semak belukar, jatuh menimpa air sungai yang beriak, berkilauan bak mutiara yang terserak. Suasana disekitar hulu sungai ini menjadi temaram karenanya.Aku terduduk lemas, hatiku galau, sedih dan takut. Semua menjadi satu. Aku sendiri di sini, tanpa teman berkeluh kesah, yang ada hanyalah suara binatang malam yang bersahutan. Bayangan gelap pohon-pohon yang berjajar di sepanjang aliran sungai, dan suara gemericik air berirama teratur seolah-olah melantunkan kidung sedih seperti hatiku.
Kutatap rembulan yang seperti iba melihat diriku.
“Oh purnama…” gumamku. Ya, memang sudah satu purnama aku mencari tuanku puteri Cempaka Gading. Aku telah mencarinya kemana-mana, namun tuanku tak dapat aku temukan.Ia seakan lenyap ditelan bumi. Ah… andai peristiwa penyerangan itu tidak terjadi, pastilah aku tidak berpisah dengan tuanku puteri Cempaka Gading.
Ah… penat sekali rasanya, kupandangi air sungai yang mengalir, kejernihannnya, membuatku ingin mandi, menyegarkan diri. Aku mengedarkan pandanganku berkeliling, sepi. Mustahil ada orang di hutan belantara ini. Apalagi malam-malam seperti ini. Palingpaling Cuma binatang malam. Kucelupkan kakiku ke air. Kulepas penutup kepalaku dan kugeraikan gelungan rambutku, namun tiba-tiba…
“Plok!” Aku terkejut, seperti suara sesuatu yang pecah, dan aku mencium wangi aroma bunga. Jangan-jangan… Aku mencoba menerka, kubalikkan tubuhku. Aku tersentak dan terpaku. Tewrnyata aku benar. Botol itu telah hancur berserakan di atas batu. Minyak perindu itu terserak di atas batu, mengalir menetes ke sungai, mengambang di atas air, dan aromanya yang wangi menyebar ditiup dinginnya angin malam.
Kupandangi botol itu, hatiku semakin sedih, minyak perindu itu adalah satu-satunya barang milik tuanku puteri yang sempat aku selamatkan, saat kami mengungsi dan kuselipkan digelungan rambutku. Tapi kini semua telah sirna.
Samar-samar aku mendengar suara orang sedang bercakap-cakap. Segera aku melompat, bersembunyi di belakang sebongkah batu besar. Kurapikan kembali pakaian dan rambutku. Suara itu semakin jelas terdengar, aku mengintip dari balik batu. Terlihat dua orang laki-laki berjalan ke arahku, yang seorang masih muda dan seorang lagi lelaki tua paruh baya.Aneh, darimana orang-orang ini datang? Padahal disekitar sungai ini tidak terlihat adanya pemukiman penduduk, dan apa maksud mereka malam-malam berada di pinggir sungai ini? Aku terus mengintip, mereka berjalan semakin mendekatiku. Aku cemas, jangan-jangan… mereka tahu kalau aku bersembunyi di balik batu ini. Tapi, hey…kulihat mereka berhenti di dekat perahuku. Mau apa mereka? Lamat-lamat aku mendengar mereka bercakap-cakap.
“Nah…anak muda, di sinilah tempatnya.” Ucap laki-laki tua itu.
“Benarkah di sini Datuk?” Tanya anak muda itu kepada laki-laki tua yang dipanggil datuk itu. Aku mencoba menyimak percakapan mereka, siapa tahu mereka tahu akan keberadaan tuanku puteri Cempaka Gading saat ini.
“Percayalah anak muda, disinilah tempatnya, dan perhatikanlah batu yang besar, lebar dan panjang itu, bukankah mirip sebuah perahu? Tanya meyakinkan. Enak saja, perahuku dibilang batu. Apakah mereka tidak salah lihat. Perahuku itu benar-benar sebuah perahu.
“Nah, anak muda. Beruntung sekali hari ini purnama. Biasanya pada bulan purnama, putri Gading Cempaka akan terlihat bersenda gurau bersama-sama inangnya di sungai ini.” Aku tersentak mendengar ucapan sang Datuk. Sepertinya ia menyebut-nyebut nama tuanku Puteri, tapi mengapa ia menyebut tuanku dengan Gading Cempaka? Bukankah nama tuanku puteri Cempaka gading? Ah…mungkin datuk itu salah sebut, pasti yang dimaksud datuk itu tuanku puteri. Harapanku mulai tumbuh kembali. Mungkinkah datuk itu tahu akan keberadaan tuanku Puteri saat ini? Akan aku tanyakan padanya. Aku bertekad dan keluar dari persembunyianku, dan melangkah menghampiri mereka.
“Anak muda, apakah engkau mencium wangi sesuatu?” Tanya datuk itu. Anak muda itu terlihat mengendus-endus membaui sesuatu, lalu ia mengangguk.
“Iyo datuk, sepertinya aroma bunga.” Jawabnya.
“Anak muda, ini adalah aroma minyak perindu.” Jelas sang datuk.
Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak, aku heran, darimana datuk ini tahu kalau aroma wangi yang menyebar adalah dari minyak perindu? Mungkinkah datuk ini tahu kalau yang baru saja memecahkan botol minyakmperindu itu dalah akau? Hasratku untuk bertanya kepada mereka semakin besar.
“Datuk!” Panggilku.
“Datuk! Datuk!” Panggilku lagi.  Tapi datuk itu tak menjawab panggilanku. Jangankan menjawabnya, menolehpun tidak.Apakah datuk ini tuli?
“Anak muda…anak muda…!” Panggilku. Aneh, mengapa mereka tidak mendengarku, apakah mereka tidak menyadari kalau aku berada di dekat mereka.Atau sesuatu telah terjadi pada diriku? Kucubit tanganku. Sakit. Tapi mengapa mereka tidak mendengar dan melihatku? Sepertinya ada dinding pemisah antara aku dengan mereka.
“Nah, anak muda. Silahkan bertapa disini, sebutkan saja segala permintaanmu. Sayo pergi dulu ya!” Katanya. Datuk itu pergi meninggalkan pemuda itu sendirian. Aku mengejarnya.
“Datuk! Datuk…! Jangan pergi, sayo hendak bertanya.” Kejarku. Sama seperti tadi datuk itu tidak menghiraukan panggilanku. Datuk itu berlalu begitu saja meninggalkan aku yang mengejarnya.
Harapanku untuk menemukan tuanku puteri sirna sudah. Orang yang kuharap sebagai tempat bertanya berlalu sudah. Aku membalikkan tubuhku. Berjalan lunglai. Dari Jauh kulihat pemuda itu mengambil posisi duduk bersila dan menyilangkan tangannya di dpan dada. Persis seperti orang bertapa. Pemuda itu, apakah ia mengetahui tentang tuanku puteri Cempaka Gading?  Tapi sepertinya tidak mungkin, dari pembicaraannya dengan datuk tadi, sepertinya ia baru saja tahu tentang daerah ini. Tapi apa yang aka dilakukannya di tepi sungai ini? Aku menghampirinya, masih seperti tadi posisinya.
“Puteri…puteri Gading Cempaka… datanglah!” Katanya.
Aku menoleh ke kiri dana kanan, apakah tuanku puteri ada di sisni?  Tapi tidak ada orang di sini selain aku dan dirinya.
“Puteri datanglah…!” Panggilnya lagi.
Ah… tidak mungkin tuanku puteri ada di sini, muncul dengan tiba-tiba. Sudah satu purnama aku mencarinya, tapi tuanku puteri tidak kutemukan. Apalagi pemuda ini. Ah… Mustahil.
“Puteri… Berilah sayo ilmu pengasih, agar sayo disenangi oleh gadis-gadis.” Pintanya.
Apa! Ilmu pengasih? Setahuku tuanku puteri Cempaka Gading tidak memiliki ilmu pengasih. Memang, tuanku puteri sangat disayangi dan dikasihi oleh setiap orang, baik di lingkungan istana maupun di kalangan rakyat. Semua itu bukan karena ilmu pengasih, tapi karena keabaikan hati dan kecantikan budinya.
“Puteri… Berilah sayo kenaikan pangkat agar hidup sayo menjadi lebih baik.” Pintanya.
Ah, bodoh sekali pemuda ini, meminta tuanku puteri untuk menaikkan  pangkatnya.
“hei!!! Anak muda, kalau mau naik pangkat, kerja yang keras. Jangan lupa berdoa pada tuahan. insyaAllah Ia akan mengabulkan segala permintaanmu!” Aku emosi..
Tapi pemuda itu tetap saja tidak mendengarkanku, ia masih saja memanggil-manggil nama tuanku puteri. Andai tuanku puteri ada di sini. Pastilah ia akan mentertawai pemuda bodoh ini. Meminta sesuatu yang tuanku puteri  tak akan mampu memberikannya, karena tuanku puteri bukanlah tuhan yang dapat menentukan segalanya. Tapi, tuanku puteri hanyalah manusia biasa yang tak mampu menolak takdir Yang Maha Kuasa atas dirinya.
Ah, Sudahlah. Mengapa aku jadi mengurusi pemuda bodoh dan tolol ini? Bisa gila akau nanti. Lebih baik kuteruskan usahaku mencari tuanku puteri cempaka gading. Kulangkahkan kakiku menyusuri tepian sungai Rindu Hati ini. Seiring asaku yang rindu untuk bertemu dengan tuanku puteri Cempaka Gading. Sayup-sayup aku masih mendengar suara pemuda itu,  mengharap sesuatu nan tak pasti.
BKL.Gedung I 1999.

(Cerpen ini pernah diterbitkan oleh Harian Rakyat Bengkulu, tgl 4 April 2004)
                                                                  
Maroji’ :      Tabot, depdikbud 1989
Harian bengkulu Express minggu, (tgl /bln, lupa) th 1999



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tombak berhulu nibung

Malam yang tak lelap

Sepenggal kisah bersama Ayah