Tombak berhulu nibung

naskah cerita 
TOMBAK BERHULU NIBUNG
Untuk lomba menulis Cerita Silat Harian Rakyat Bengkulu

Penulis
Novie Noerman






TOMBAK BERHULU NIBUNG
Oleh:  Novie Noerman

Dua orang muda duduk di atas batu Membang di tepi Lubuk kelam Api.  Gemerisik daun bambu kuning tertiup angin. Pohonnya berderet membentuk pagar, dan recik air sungai Tanjung Terdana tidaklah mengusik seriusnya percakapan antara keduanya.
            “ Saudaraku, Kali ini Belanda sudah benar –benar keterlaluan. Hoofdbelasting (Pajak Kepala) yang mereka terapkan benar-benar merugikan dan menyengsarakan rakyat. Tidak dapat aku bayangkan setiap nyawa di negeri ini harus menanggungnya. Kita bisa kelaparan...” ucap Burniat dengan Geram.
            “ Betul, saudaraku. Aku rasa Paman Depati Tanjung Terdana terpaksa melaksanakan Hoofdbelasting. Ia takut akan kedudukannya sebagai regenteen bestuur dicopot oleh Belanda.” Merdayan Menambahkan.
            “ Ya. Sejak Belanda menggantikan Inggris. Mereka benar-benar menghancurkan kehidupan kita. Dengan Undang-undang  Simbur Cahaya yang mereka paksakan, tatanan kehidupan dan adat istiadat kita menjadi kacau , hancur tidak berharga. Mereka melakukan penghapusan Regenten bestuur dan Hoofdbelasting. Sejak kakekku, Raja Khalifah meninggal kerajaan Sungai Itam tenggelam. Terakhir Pangeran Bangsa Negara dibebaskan dari jabatan Regent Sungai Itam dan sampai hari ini jabatan itu dibiarkan kosong.” Burniat Menerawang sedih.
            Simbur  Cahaya adalah Undang – undang yang di buat  Belanda pada tahun 1862 oleh Asisten J. Walland  yang isinya adalah peraturan Hoofdbelasting (pemungutan pajak kepala). Pemecatan Pasirah-pasirah dari jabatannya bila tidak melaksanakannya, Penghapusan “Regenten Bestuur” (pemerintahan Bupati), Pelaksanaan peraturan tanam paksa lada dan kopi,  dan diberlakukannya Gawe Raya (pembuatan dan pemeliharaan jalan  dan jembatan secara gotong royong).  Undang-undang ini diberlakukan dalam keresidenan Bengkulu supaya dipatuhi dan dijalankan, sekaligus menyatakan bahwa hukum adat yang ada di daerah – daerah tidak berlaku lagi atau dan dihapuskan. Siapa yang menolak dan menentang akan diambil tindakan tegas.
            “Ini tidak bisa dibiarkan, Saudaraku Burniat. Kita harus melakukan sesuatu.” Saran Merdayan.
            “Kau Benar, Merdayan. Kita harus melawan, kita tidak bisa di tindas seperti ini. Mari kita bergerak kita kumpulkan seluruh pemuda dusun ini. Kita harus bersatu menolak Simbur Cahaya. Apakah kau siap saudaraku?” Bara menyala dalam diri Burniat.
            “Aku bersamamu. Burniat.” Merdayan dan Burniat saling berjabat tangan.
****
Pagi-pagi sekali seruni sudah bangun. Kelam masih bersisa dan dingin masih mencucuk di luar. Namun suara-suara ayam sudah mulai ribut bersahutan di kandangnya. Seruni melangkah ke dapur. Ia mengambil beberapa potong ranting sebagai kayu bakar tungkunya. Selain ranting ada juga beberapa pelepah kelapa dan daun kelapa kering untuk penyulut api supaya cepat menyala. Bau asap mengepung dapurnya ketika api baru saja dinyalakan. Ia sedikit memicingkan mata dari asap saat ia menyorongkan ranting-ranting dan pelepah kelapa di tungkunya. Api yang menyala tidak lagi mengeluarkan banyak asap. Diambilnya periuk yang tergantung di dinding dapurnya yang  terbuat dari anyaman bambu. Periuk itu hitam berjelaga karena terlalu sering  bertengger di atas tungku. Seruni mengisi periuk itu dengan air dan meletakkannya diatas tungku yang telah menyala. Lalu ia beranjak naik ke sisi ruangan lain dari  gubuk mereka. Huma panggung kecil beratap rumbia berdinding pelupuh bambu.
            “ indok di klongon? (Ibu sudah bangun?)  Maroba uku mes mai sumur (Mari aku antar ke sumur). ” Seruni menyapa ibunya.
Perempuan setengah tua itu hanya diam saja. Barulah ia berjalan ketika seruni menarik tangannya. Perempuan itu buta meski matanya terbuka. Seruni membimbingnya hingga ke sumur. Setiap pagi dan petang ia memandikan ibunya dengan penuh rasa kasih sayang. Ia tidak memiliki siapa-siapa. Seruni anak tunggal. Ayahnya meninggal di tembak Belanda ketika tidak mampu membayar Hoofdbelasting. Itu terjadi ketika ia belum mengerti dengan kerasnya kehidupan. Yang ia ingat saat itu ibunya menngis histeris saat melihat ayahnya bersimbah darah.
            Seruni kemballi menuntun ibunya masuk ke rumah. Memakaikannya baju yang bersih. Lalu membawakannya secangkir minuman hangat dan meletakkannya di atas meja. Dibukanya jendela rumah. Mengalirlah udara sejuk kedalam ruangan itu. Mengisi relung-relung paru-paru kehidupan. Rumah seruni masih dalam perkampungan hanya saja sedikit agak jauh dari rumah yang lainnya. Tepatnya di dekat jalan hendak menuju sungai.
            “ Bioa gi panes. (Airnya masih hangat). Mout kileak amen indok lok menene.   (Tunggulah barang sebentar kalau ibu ingin  meminumnya).” Seruni kembali berbicara dengan sang ibu yang hanya dibalas dengan anggukan kecil.
            “Uku lok ngepuk mai bioa.( Aku akan mencuci dulu di sungai). Indok jibeak maipe-maipe yo. (Ibu jangan kemana-mana ya).” Pinta seruni kepada ibunya. Seruni masuk kedalam. Mengambil pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam kijing (Keranjang yang terbuat dari anyaman bambu yang diraut dan dibawa dengan menyangkutkan talinya di kepala ). Lalu ia keluar dengan kijing yang tersampir di punggungnya. Ia melangkah pergi. Dalam perjalanan menuju sungai ia melewati kebun milik keluarganya yang luasnya tidaklah seberapa. Kebun kopi itu kini kurang terawat. Sejak ayahnya tiada, kopi-kopi itu masih berbuah tapi seadanya. Dan hanya dapat dijual sekedar pembeli beras dan lauk. Mungkin sejak dulunya hasil kebun keluarganya sudah tidak memuaskan. Sehingga ayahnya tak mampu membayar Hoofdbelasting kepada Belanda.
            Beberapa meter dari bibir sungai ada tumbuhan liar dengan bunga yang sangat harum. Sejak Seruni kecil hingga kini tumbuh menjadi gadis remaja ia sering memetik bunga –bunga itu. Keharuman bunga itu sangat memikatnya untuk selalu ikut ibunya bila hendak mencuci di sungai. Ia memetik beberapa kuntum bunga seruni yang mekar. Dan meletakkanya di dalam kijing.
            “Bunga harum ini namanya Seruni, anakku” terngiang ia akan ucapan ibunya ketika sang ibu masih sehat. Ketika Seruni menanyakan nama bunga tersebut.
            “Aku ingin kau nanti seharum bunga ini. Kecil, putih dan harum. Supaya hatimu seputih dan seharum bunga ini, meskipun kau berasal dari golongan kecil. Itulah mengapa kami memberimu nama seruni”. Seruni tersenyum mengenang penjelasan ibunya.
            Sepulang dari mencuci di sungai Seruni kembali melayani ibunya. Menyuapinya. Dan menghibur ibunya dengan lantunan syair yang dulu pernah ia dengar dari ibunya ketika mengantarnya tidur.
Uku lak alew mai sadie perboa
Temeu punguk nak pengei dalen
Alang kemalang nasib ku iyo
Awie ba punguk indeu ngen bulen
(Saya pergi ke dususn Perbo
Ketemu Pungguk di Pinggir jalan
Sungguh malang nasibku ini
Bagaikan pungguk rindukan bulan)
Uku terus mai sadie saweak
Temu sawei nak bio musei
Amen ku namen etun temegea’
Nemak ku anduk gen mlap bio matei
(lalu saya ke dusun sawah
Ketemu sawah di pinggir air musi
Jika kutahu orang melarang
Akan kuambil handuk untuk menghapus air mata)
Uku terus mai taba renea’
Singa’ uku nak sipang epat
Men ku namen eko lak nikea’
Kunyeu ba uku idup melarat
(Aku lanjut ke tabarenah
Mampir aku di simpang empat
Jika kutahu engkau akan menikah
Biarlah aku hidup menderita)
Uku belek mai bio ambei
Mlitas uku kak sadie cu’up
Amen ku namen eko bi jijei
Baik ba uku dami ba idup
(Aku pulang ke air rambai
 Melewati dusun curup
Jika kutahu engkau sudah jadi
Lebih baik aku tak usah hidup)*
            Air mata ibunya mengalir. Tanda sang ibu masih merespon makna dari syair tersebut. Namun mungkin lidahnya sudah terlalu kelu untuk mengungkapkan kesedihan hatinya. Karena pungguk yang dirindukannya takkan pernah kembali lagi.
            “Tidoa ba Indok bilai di kemen. (Tidurlah Bu,  Sudah Malam..).” Seruni membimbing ibunya ke atas tilam yng hanya beralas tikar pandan hutan. Buatan ibunya sendiri. Menyelimutinya dan megecilkan pelita.
            Seruni melangkah keluar dengan pelan. Hati-hati ia membuka pintu gubuknya. Supaya deritnya tidak membangunkan sang Ibu. Mengendap-endap ia berjalan dibalik jalan setapak menuju Dusun Tanjung Terdana. Hingga tibalah ia di dekat sebuah kolam. Di dekat kolam ada sekelompok pohon enau. Dibalik pohon itulah matanya menatap tajam ke arah sekelompok orang yang sedang berlatih di belabar besar. Berkeliaran matanya seiring gerakan orang-orang yang berlatih itu.
Seruni merekam segala gerakan dan jurus – jurus dan tanpa sadar ia pun mengikuti gerakannya. Persis seperti orang-orang yang berlatih di Belabar itu. Ada suatu keinginan yang kuat dalam hati Seruni, untuk memiliki ilmu seperti pendekar-pendekar itu. Ia tak berani langsung belajar pada seorang guru karena merasa tak pantas karena ia perempuan  dan tak lazim berbaur dengan laki-laki. Demi ibunya tercinta ia ingin bisa membalas kekejaman Belanda yang telah menyakiti ibunya dan menyengsarakan hidupnya dan masyarakat di Dusunnya dengan caranya sendiri.
****
            Malam purnama empat belas bulat penuh. Cahayanya menambah terangnya cahaya obor di perguruan  Silat Cikak Kalima. Hari ini  Belabar besar  dilaksanakan. Belabar adalah  sebutan untuk tempat latihan silat  di perguruan. Belabar besar biasanya dipakai untuk latihan secara masal.  Sekumpulan pemuda sedang serius berlatih massal. Burniat dan Merdayan ikut serta di dalamnya. Datuk Rajo Alim memberi aba-aba pada  anak-anak asuhnya dalam gelanggang belabar besar.
            “Semua bersiap! Jurus pertama tegak Alif!”  Seluruh peserta silat melakukan sikap tegak bersiap sambil menunggu aba-aba selanjutnya.
            “ Berdirilah dalam kebenaran. Jurus kedua, langkah titi batang! Berjalanlah lurus menuju kebenaran!”  pesilat mempraktekkan perintah Datuk Rajo Alim dengan sungguh – sungguh.
            “ Langkah Tigo Genting! Jaga Keseimbangan” pesilat bergerak melakukan jurus ketiga.
            “ Kilip langkah empat! Jaga keseimbangan kiri dan kanan! Kilip langkah limo! Jaga sikap kesempurnaan dalam kewaspadaan!” lantang suara Datuk Rajo Alam.
“ Silat ini warisan leluhur....jagalah segala langkah dan sikap kalian para pendekar Cikak Kalima. Tanah baru ada setapak miring. Laut ada secangkir kecil, gunung baru ada sebentang benang, tali lingkaran belum terhubung, masih terputus-putus, di tengah susah berdiri, tegak tangan diayun keseimbangan, baru dapat sekembang payung, atas kehendak jadi berbuat tumpu dalam atas kehendak pendirian, mengaku dalam kebenaran pencipta, dikerjakan untuk perkembangan penjuru empat tali, dijago gerak diatur menurut waktu untuk menetukan dalam kebenaran.”  Nasihat Datuk Rajo Alim ketika menutup latihan belabar besar malam itu.
            Sejak tadi Depati Payung Negara memperhatikan belabar besar itu. Matanya mencari-cari seseorang di antara pendekar cikak kalima. Lalu ia melihat sesosok pemuda berjalan kearahnya. Pemuda itu gagah, tubuhnya yang setengah telanjang dada basah oleh keringat.
            “Paman Depati ada disini? Paman ikut belabar besar pula?” tanya pemuda itu.
            “Oh tidak Burniat, aku hanya menonton saja. Aku ini sudah tua tidak sekuat kalian para pendekar cikak kalima.” Jelas Depati Payung Negara  pada pemuda yang ternyata adalah Burniat.
“Kudengar kau berencana melumpuhkan asisten residen Humme. Benarkah itu Burniat?” Depati Payung Negara ingin memastikan kabar burung yang ia dengar.
“InsyaAllah paman Depati.”
“Tapi, menurutku itu terlalu berbahaya dan berat.”
“Paman, apa yang kurasakan tidaklah lebih berat dari apa yang dirasakan oleh rakyat kita. Atas kekejaman Humme dan sekutu-sekutunya yang tidak berperikemanusiaan.”
“Kalau boleh aku sarankan… Batalkan saja niatmu itu!”
“Apa Paman!” Sepasang mata itu terhunjam tajam di wajah Depati Tanjung Terdana.
“Maksudku… Aku mengkhawatirkan keselamatanmu Nak. Kau masih muda. Masih bisa menikmati indahnya masa muda. Dan jujur saja, Belanda sangat ingin menangkapmu dan orang-orang yang membantumu.” Depati Tanjung Terdana teringat saat pertemuannya dengan Asisten Residen Humme tempo hari. Humme dengan nada  keras memerintahkan agar Burniat ditangkap dan jika perlu dibunuh dan kepalanya diserahkan kepada pemerintah Belanda. Burniat adalah salah satu penduduknya yang tidak mau membayar pajak dalam bentuk apapun. Depati juga merasa berat menarik pajak dari rakyat yang telah miskin tapi posisinya sebagai kepala dusun terancam dicopot, bahkan tunjangan gajinya sebagai kepala dusun yang belum dibayar oleh belanda selama tiga bulan akan hilang sia-sia. Itupun telah mengalami penurunan gaji hingga menjadi f.40 dibandingkan pada masa kependudukan Inggris.
“Paman, apalah kesenangan yang kudapat, bila hatiku tidak tentram. Pedih menyaksikan kesengsaraan dan tangisan derita di sekelilingku. Aku bukanlah manusia yang tak berperasaan. Aku bagian dari mereka. Jika nyawaku  dapat mengembalikan tatapan sendu menjadi bercahaya atu bibir yang membiru dapat tersenyum kembali. Apalah arti nyawaku ini Paman. Aku akan menukarnya untuk semua itu.”
“Tapi…” Depati bingung.
“Jodoh, maut dan rizki ada di tangan Allah. Bukan begitu Paman? Jika takdir itu milikku, pasti akan aku temukan. Kalaulah tidak. Aku yakin ia telah menyiapkan untukku di tempat kita kembali nanti.”
“Seyakin itukah kau?”
“Tentu Paman. Aku selalu yakin Pada-Nya. Seperti Jundullah pengikut Rasulullah yang teguh dalam setiap pertempuran. Rindu syahid fisabilillah dan…”
“Dan apa?” Depati penasaran.
“Dan si mata jeli itu telah menantiku di sana Paman. Penghibur yang menyenangkan. Mmhhh… Paman, ada apa sebenarnya denganmu? Tidakkah kau merestui perjuangan kami? Atau…”  Burniat tidak melanjutkan. Hanya mata legamnya menusuk retina Depati.
“Tidak – tidak, anakku. Aku tidak seburuk yang kau bayangkan. Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Demi rakyat Bengkulu dan aku situa ini hanya mampu berdoa semoga selamat.”
Depati menarik nafas dalam. Begitu kerasnya Ia khawatir pada bara yang ada dalam jiwa muda itu akan menyala membakar dirinya sendiri. Burniat adalah sosok pemuda yang gagah dan berani dalam usianya yang masih muda ia mampu menggalang kekuatan untuk melawan Belanda dan tidak segan-segan memberontak pada segala peraturan yang ditetapkan oleh Belanda. Bagi masyarakat ia adalah pahlawan namun bagi belanda, Burniat adalah penjahat yang perlu disingkirkan. Tidaklah heran jiwa kepemimpinan itu ia miliki karena ia masih dibawah garis keturunan Raja khalifah Sungai Itam (Kerajaan Sungai Itam). Semoga ia tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Batinnya.
                                                ****
Bengkulu , 18 April 1873
            Sepasukan berkuda berlari menuju kota Bengkulu. Menyisakan kepulan debu, menutupi pandang ke Tanjung terdana. Pasukan pemuda bersenjata tombak, rodus, sewar dan pedang itu memasuki kediaman assisten residen Humme. Kedatangan mereka yang tiba-tiba disambut seadanya oleh Assisten residen Humme dan anak buahnya. Pasukan  Burniat yang hanya bersenjata tradisional merangsek masuk ke dalam. Perkelahian sengit tak terelakkan, namun sedikit tidak seimbang karena pasukan Belanda benar-benar tidak siap menerima kedatangan mereka bahkan untuk mengatur strategi pun Residen Humme tak sempat lagi. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Meskipun pasukan Humme bersenjata lengkap, namun mereka mampu disudutkan oleh Burniat dan kawan-kawannya. Mereka di atas angin.
            “Tuan Humme, kemari cepaatt!” Seorang perwira Belanda berteriak sambil berlari  ke sebuah pintu ia melihat kondisi pasukan Belanda sudah terpojok. Di tangannya tergenggam dua buah tabung oksigen. Sementara di belakangnya  assisten residen Humme mengikuti.  Perwira itu membuka pintu. Masuk dan menghilang di sebalik sebuah pintu yang merupakan terowongan.
            “Oiii Burniat! Itu assisten Humme ke sana. Cepat kejar!” Teriak seorang dari pasukan berkuda itu, saat melihat Humme melarikan diri.
Burniat berlari mengikuti  arah seruan. Tombak berhulu nibung di tangannnya bergetar mengalirkan geram.
            “Kita terlambat! Asissten Humme telah melarikan diri  melalui lorong ini!” Burniat kesal.
            “Susul dan kejar saja mereka.” Saran ijal, salah satu dari pasukan berkuda.
            “Lorong ini sangat panjang, dan memiliki tiga muara. Kita tidak tau muara mana yang Humme tuju.” Jelas Burniat.
Burniat menerawang. Inikah lorong yang disebut-sebut orang-orang tua . Lorong yang memiliki tiga muara; Benteng Marlborough, Tapak Paderi dan Pantai panjang.
            “Kalau begitu, kita tidak mungkin mengejar. Selain kita tidak tahu muara pelarian mereka. Kitapun tidak memiliki oksigen. Persediaan yang ada di sini telah mereka bawa.” Ucap Merdayan.
            “Sudahlah, kita pulang saja. Bukankah sejauh ini kita telah menang. Cukuplah hari ini pelajaran bagi pemerintah Belanda dari kita. Sebentar lagi Belanda akan datang dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ayo!!
Burniat dan kawan-kawan kembali menuju kuda masing-masing. Namun sebelum benar-benar keluar. Mata legamnya tertumbuk pada perlengkapan pakaian dinas asisten Humme . Cepat ia menyambar Topi dan baju dinas bewarna putih itu, dan berlari naik ke atas   kuda dan menggebahnya. Diikuti oleh kawan-kawannya kembali ke dusun Tanjung Terdana.
                                                            ***
            Setelah penyerangan  Burniat  di kediaman Asisten Residen Humme, Belanda bangkit kemarahannya. Asisten Residen Humme dianggap gagal dalam menjalankan misinya dan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia segera dipindahkan dari Bengkulu dan digantikan oleh Asisten H.C. Van Amstel. Belanda mengirimkan Pasukan Marsose untuk menyerang  Tanjung Terdana. Pasukan Marsose bergerak menuju Dusun Tanjung Terdana. Menyerang tiba-tiba. Memuntahkan pelor-pelor tak bersasaran. Penduduk merasa kecut dan takut.
            “Burniat, apa yang harus kita lakukan?” Merdayan menatap Burniat.
            “Perintahkan seluruh pemuda dusun ini bersembunyi ke hutan. Sebelum pasukan Belanda itu benar-benar dekat.”
            “Bagaimana dengan para orang tua, wanita dan anak-anak?”
            “Tinggalkan saja!”
            “Tinggalkan!?”  Merdayan tak sampai hati.
            “Kita tidak mungkin membawa mereka ke hutan saat ini. Akan mencurigakan. Lagipula Belanda itu mengincar kita. Ayo cepat! Tunggu apalagi!!” keduanya melesat menuju hutan di balik dusun Tanjung Terdana, diikuti oleh pemuda-pemuda Dusun.
            “Hei… Kalian para Inlander  keluarrr!!!” Seorang Pemimpin tentara kompeni berteriak. Namun Dusun itu seperti mati tak berpenghuni. Hanya jangkrik hutan yang terdengar.
            “Periksa semua rumah!’ Perintah Komandan Kompeni itu. Para marsose memeriksa semua rumah satu persatu.
            “Tuan kami hanya menemukan, para wanita, anak-anak dan orang tua jompo.” Teriak seorang perwira marsose.
            “Kumpulkan mereka semua!”
            “Keributan mulai terjadi. Para wanita dan anak-anak yang ketakutan. Menjerit dan menangis ketika dipaksa keluar rumah. Dibawah todongan laras mereka dikumpulkan.
            “Kurang ajar! Kemana kalian sembunyikan Burniat dan pemuda dusun ini hah!”
Wajah para wanita tertunduk. Anak-anak memagut ibu-ibu mereka erat. Hati mereka dicekam ketakutan.
            “Hei cantik! Dimana Burniat dan kawan-kawannya bersembunyi?” Komandan itu mendekati seorang perempuan muda yang baru tumbuh, dengan memegangi dagunya  dan berbisik di telinga gadis itu.
            Gadis itu ketakutan. Bibirnya hanya mampu bergumam-gumam tak jelas.
            Plak! Jemari kanan komandan membekas di pipi gadis itu, darah segar menetes di ujung bibirnya. “Hey! Katakan maksudmu dengan jelas!” Si komandan menjambak  rambut perempuan itu.
            “Tuan… Cukup tuan, anak saya tidak bisa bicara. Bisu Tuan. Ampuni dia…” seorang perempuan tua memohon, sambil mencoba melepaskan  tangan sang komandan yang mencengkram rambut anaknya. Air mata di wajah tuanya menganak sungai.
            “Ah, perempuan tua minggir kau. Katakan dimana Burniat dan kawan-kawannya bersembunyi.” Lelaki itu mulai kalap. Ia menempelkaan pistol di pelipis perempuaan muda itu.
            “Hei! Kalian semua! Katakan di mana Burniat dan kawan-kawannya bersembunyi! Jika tidak, kepala perempuan ini akan meledak!”
            “Tuan, tidak baik terburu nafsu begitu. Lagipula apa untungnya bagi anda meledakkan kepala perempuan bodoh ini. Anda hanya akan  membuang-buang peluru!” seorang perempuan ayu bermata tajam  tiba-tiba keluar dari kerumunan para wanita dan anak-anak. Sesuatu yang terkepal ditangannya terlepas berjatuhan di tanah yang ternyata adalah  bunga –bunga seruni. Parasnyaa yang cukup menawan, dengan tubuh yang proposional, meski dengan pakaian kebanyakan,  lusuh dan tak cerah. Tapi dengan berani ia mendekati sang komandan. Tangannya mencoba menurunkan  lengan sang komandan yang teracung menggenggam pistol.
            “Siapa kau perempuan! Katakan dimana Burniat!” Pistol itu kini mengarah kepadanya. Perempuan itu terlihat tenang dengan senyum di bibirnya.
            “Tuan, anda sungguh pemberani. Aku suka orang seperti anda.”
            “Katakan dimana Burniat!” Sang Komandan keras kepala.
            “Oh, dia?! Nantilah aku beritahu. Silahkan tuan dan pasukan beristirahat dulu. Bukankah tuan telah melakukan perjalanan jauh? Kami telah menyediakan minuman buat tuan. Mari ikut saya!”  Perempuan itu menarik tangan sang komandan ke sebuah rumah.
            “Silahkan anda minum tuan.” Perempuan itu  menyodorkan sebuah kelapa muda  yang siap untuk diminum. Dan sang Komandan menerimanya.
            “Baiklah. Hey! Kalian semua mari kita mengaso dulu! Ini ada banyak kelapa muda! Kemari!!” Para serdadu marsose berdatangan ke rumah itu, dan perempuan itu memanggil pula beberapa orang gadis yang sempat dikumpulkan di lapangan.
            “kuwat –kuwat, layan tuan –tuan yo. ( kawan-kawan, layani tuan-tuan ini dengan baik.)
            “ijai (Baik), seruni” jawab para perempuan itu dalam bahasa dusun (rejang) pada perempuan yang memberi perintah. Masyarakat Dusun tanjung terdana masih termasuk ke dalam kaum Bermani (rejang)
            Suasana  terdengar ramai. Untuk sesaat pasukan Belanda melupakan pencarian Burniat. Kini mereka tampak menikmati segarnya buah kelapa yang  disajikan.
            “Hey segar ya!” Seorang dari pasukan marsose memuji.
            “Hey cantik, aku mau lagi!” Minta serdadu itu. Perempuan bernama seruni itu tersenyum. Matanya berkilat senang.
            Tak lama…
            “Aaa …aku pusing!!” teriak salah seorang dari mereka.
            “Ya! Aku  mual… Hoeeekk!” Ada yang muntah.
            “wah… panas-panas…” kata yang lain.
            Gedubrak!!! Tiba-tiba diantara mereka yang berteriak terjatuh. Mulutnya mengeluarkan busa.
            “Hey, apa yang terjadi?!” teriak komandannya. “Lihat  dia!”
            “Dia tak bergerak Tuan! Tidak bernafas!”
            “Mati tuan! Dia sudah mati!”
            “Aaaaggghhhh!!! Kelapa ini beracun! Kurang ajarrrr!!!” sang komandan berteriak marah.
            “Aaagghhh! Kepalaku!!”  sang komandan memegang kepalanya.
            Gedubrak!!!  Sang komandan pun roboh. Suasana menjadi ribut. Pasukan marsose panik. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para  perempuan dan anak-anak  yang ditawan pasukan marsose untuk melarikan diri. Dan perempuan itu kembali tersenyum penuh kemenangan.         
****
           
            “Istriku, apakah kau mencintaiku?” Tanya Merdayan.
            “Pertanyaanmu aneh, Kak. Ada apa?” Istri merdayan heran dengan pertanyaan suaminya yang tiba-tiba. Dan tidak pernah sebelumnya ia bertingkah seperti itu.
            “Jawab saja!”
            “Ya, tentu aku mencintaimu suamiku.”
            “Bohong!” teriak Merdayan.
            “Kak? Apa maksudmu?” Istrinya terpana melihat sikap Merdayan.
            “Iya! Kau bohong. Kau tidak mencintaiku. Kau mencintai orang lain.”
            “Kak, apa yang kau katakan? Demi tuhan, aku tidak pernah mengkhianatimu. Apalagi  seperti yang kau tuduhkan.” Istriny  mulai menangis.
            “Jangan-bawa-bawa tuhan. Aku dengar  dari orang dusun. Mereka membicarakanmu dengan laki-laki itu.”
            “Ap...Apa?” Istri Merdayan terkejut.
            “Kau mau mengelak? Apa buktinya kalau kau tidak ada apa – apanya dengannya?”
            “Siapa yang kau maksud kak?”
            “ Burniat! Bukankah kau tadi malam menemuinya?”
            “Apa?” istri Merdayan bertambah terkejutnya atas tuduhan suaminya.
            “Kau mau menyangkal lagi? Sungguh perempuan tak tahu malu!”
            “Kak... tadi malam aku memang menemui Burniat, tapi....”
            “Ah mengaku juga kau rupanya....” Merdayan memotong ucapan istrinya.
            “Kak, aku menemui Burniat karena aku diminta ayah untuk menyampaikan pesannya. Lagi pula apa salahku kak Burniat adalah sepupuku, tidak mungkin ...!” Istri Merdayan membela diri.
            “ Alah... sepupu pun bisa jadi kekasih....” Merdayan menekan.
            “Kakak.! Apa yang kau inginkan?” perempuan itu menyusut air matanya. Ia merasa terhina atas tuduhan suaminya.
            “Aku ingin kita berpisah. Untuk apa diteruskan kalau dihatimu ada  pria lain. Kau tidak mencintaiku!” Merdayan pasrah.
            “ Apa? Kumohon jangan kak. Bagaimana dengan  anak-anak kita? Mereka masih kecil-kecil. Lagipula aku benar-benar mencintaimu! Sungguh! Aku tidak punya perasaan pada Burniat...”
            “Cinta? Hah! Kau mencintaiku?” Merdayan tersenyum sinis. “Apa buktinya? Hah!”
            “ Kau ingin bukti?
            “ Ya! Aku ingin kau membuktikan cintamu padaku!”
            Istri Merdayan terdiam... ia sedang memikirkan cara untuk membuktikan cintanya pada suaminya.
            “ Apa pun yang kau inginkan akan aku lakukan untuk membuktikan cintaku padamu.” Perempuan itu tertunduk sedih.
            “ Baiklah, Ambilkan Tombak berhulu nibung milik Burniat untukku!” pinta merdayan
            “Apaaa!!!” Istri Merdayan tersentak atas permintaan Merdayan.
            “ Mengapa? Kau takut?”
            “Tidak...hanya saja... bukankah kita sama-sama tahu kalau senjata itu adalah salah satu sumber kekuatannya? Jika aku ambil dia akan....”
            “Tidak apa-apa...justru disana buktinya kalau kau mencintaiku atau dia!”
            Sungguh berat keputusan yang harus diambil istri merdayan. Di satu sisi ia mengkhawatirkan sepupunya dan disisi lain orang yang dicintainya menuntut bukti untuk sebuah keutuhan rumah tangganya.
            “ Baiklah... akan aku turuti permintaanmu.” Perempuan itu membuat keputusan.
            “ Bagus! Lakukan sekarang.” Ucap Merdayan.
            Sambil menahan gundahnya, istri Merdayan pergi menemui Burniat demi tombak berhulu nibung.
            Burniat tertidur pulas ketika sepupunya melewati tempat tidurnya. Tombak berhulu nibung itu tergeletak di samping tubuh lelah yang seharian bekerja dan berlatih itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh sepupunya yang tidak lain adalah istri Merdayan sahabatnya. Dengan rasa cemas dan tangan gemetar perempuan itu mengambil tombak berhulu nibung milik Burniat dan menyelipkannya di balik kainnya. Namun dalam hati perempuan itu berkata “maafkan aku kakak..”
            Pagi Menjelang... Burniat terjaga dari tidurnya. Dia meraba-raba mencari sesuatu disampingnya. Terkejut bukan kepalang Burniat ketika benda kesayanganya yaitu Tombak berhulu Nibung sudah raib. Amarahnya meledak.... ia membongkar semua benda yang ada di dekatnya. Benda – benda itu sudah tidak beraturan tempatnya. Dihempas, dilempar dan dipatahkan. “Siapa yang mencuri tombakku?” Burniat berteriak, darah mudanya menggelegak. Ia berjalan hilir -mudik. Sangat gusar dan menghilang hingga ke ujung jalan.
            Konon Tombak berhulu nibung adalah tombak sakti milik Burniat.  Tombak itu adalah sumber kekuatan Burniat. Beberapa kali Burniat lolos dari kejaran belanda yang ingin membunuhnya dan ia kebal akan senjata apapun kecuali senjatanya sendiri (Tombak berhulu nibung)
****
            Residen H. Van Amstel menerima sebilah tombak dari tangan Merdayan.
 “Kamu orang kerja bagus. Gut gut...” Amstel memuji Merdayan.
            “ Ini ambillah, kamu punya upah karna kerja bagus!” Amstel melempar kantong kecil berisi uang dan ditangkap cepat oleh Merdayan. Merdayan senang ia tidak akan susah lagi mencari makan. Dengan uang itu ia dapat membeli lebih dari kebutuhannya.
            “ Terimaksih tuan... tapi tuan...bagaimana dengan janji tuan yang kedua?” Merdayan menagih janji yang kedua.
            “Oh...Kamu orang tidak usah khawatir... Kalau si pengacau Burniat itu nanti mati... kamu orang boleh naik sebagai gantinya.” Amstel meyakinkan Merdayan.
            “Kamu orang boleh pergi, dan tunggu waktunya.” Merdayan mengangguk dan melangkah pergi. Hatinya senang.
            Sepasang mata memperhatikan Merdayan dari jauh... mata jeli dari bayangan hitam bertopeng. Segera bayangan itu menghilang. Yang tersisa darinya hanyalah Sekuntum Bunga Seruni
                                                                        *****
            Burniat  tiba di pinggir sungai, air sungai yang jernih belum juga mampu meredam amarahnya. Ia sangat gundah dan sedih. Kehilangan benda pusaka Tombak Berhulu Nibung sangat menyakitkannya. Salah satu sumber kekuatan yang ia miliki. Ia terus berjalan menyisir sungai berharap menemukan petunjuk tentang benda kesayangannya.  Tibalah ia di sebuah air terjun. Tidak begitu deras tetapi udaranya yang segar dan hempasan air yang tertiup angin memercik ke mukanya. Menyejukkan. Rimbunnya semak dan daun – daun pakis menghiasi sisi –sisi sepanjang sungai. Batu- batu alam besar dan kecil berserak di sekitar air terjun.            
            Tiba-tiba telinga Burniat mendengar sesuatu yang berkerosakan didekat sungai, lalu ia mengendap mendekati arah suara dan sesosok hitam berkelebat menjauh. Burniat mengejar sosok hitam itu seperti tahu dikejar, sosok hitam itu terus menghindar. Dua sosok saling bekejaran. Burniat tiba-tiba berhenti mengejar. Sosok hitam yang dikejar Burniat menghilang tepat di dekat sebuah batu sebesar rumah. Burniat merasa sosok itu pastilah bersembunyi di balik batu besar itu.
            Ketika ia akan melangkahkan kakinnya menuju batu besar ia melihat beberapa kuntum bunga berwarna putih mengambang di atas aliran sungai. Burniat semakin yakin pastilah ada seseorang yang bersembunyi di balik batu besar itu.
            “Wahai kau yang bersembunyi di balik batu, keluarlah! Tampakkan dirimu!” teriak Burniat.
Namun hanya gemericik air yang terdengar. Sosok di balik batu itu tidak bersuara apalagi menampakkan dirinya.
            “Keluarlah!! Aku tidak akan menyakitimu!” Burniat kembali menunggu.
            “ Atau bagaimana kalau kita berteman saja? Keluarlah!” Kembali tak ada sahutan.
            “ Ya sudahlah, mengapa aku harus capek-capek mengejarmu? Aku tak ada urusan denganmu. Urusanku lebih penting daripada mengetahui siapa dirimu.” Burniat berlalu pergi.
            Baru saja beberapa langkah Burniat melangkah. Sosok hitam itu kembali muncul. Kini tepat di depan Burniat.
            “Siapa kau!” Bentak Burniat
            “Bukan Siapa-siapa” sahut sosok hitam itu.
            Burniat menatap sosok hitam dengan mata menyelidik. Sosok yang terbalut dengan pakaian hitam dengan penutup kepala hitam pula. Yang tanpak hanyalah dua mata pada penutup kepalanya. Sosok itu sedikit kurus dan tidak terlalu tinggi. Ada satu hal yang mengganjal di hati Burniat. Perawakan sosok itu sedikit mengarah pada sosok perempuan. Ada bagian-bagian yang tidak tersirat padanya jika ia laki-laki. Dan dari suaranya yang terdengar dibuat-buat besarnya semakin memperkuat dugaan Burniat.
            “ Jadi, apa maumu?” Burniat bertanya sebagai upaya menyelidik siapa sosok ini sebenarnya?
            “Tombak Berhulu Nibung!” Jawab Sosok itu. Burniat tersentak ketika nama senjata kesayangannya disebut.
            “ Kau ... Pencuri tombakku?” Amarah Burniat kembali muncul tanpa pikir panjang Burniat menyerang sosok itu dengan ilmu cikak Kalima yang dia miliki.
            Sosok itu berkelit dari serangan penuh amarah Burniat. Sosok itu tidak balas menyerang. Burniat merasa sosok lawannya ini bukanlah orang biasa. Ilmu Cikak Kalima yang dimiliki Burniat termasuk yang lumayan tinggi. Dan yang lebih membuatnya terkejut, sosok ini juga menggunakan ilmu Cikak Kalima. Tapi setahu Burniat diperguruannya tidak ada perempuan yang mengikuti latihan.Sungguh Burniat dibuat penasaran.
            “Aku tidak mencuri senjatamu...” teriak sosok itu sambil menghindar dari serangan Burniat.
            “Kalau kau bukan pencurinya, darimana kau tahu tentang Tombak berhulu Nibung!”  Burniat mengamuk.
            “Merdayan!”  Burniat menghentikan serangannya. Ketika ia mendengar sosok itu menyebut nama sahabatnya.
            “Apa Maksudmu?” Burniat ingin tahu.
            “Merdayan yang telah mengambil tombakmu. Lalu menyerahkannya pada Belanda. Kau telah dikhianati.” Ucap sosok itu sambil menghela nafasnya yang sesak.
            “Aku tidak percaya padamu! Darimana kau tau!” Selidik Burniat.
            “Aku mengikutinya, ketika ia menyerahkannya kepada Belanda. Sahabatmu sudah termakan hasutan Belanda. Ia lebih mementingkan harta dan kekuasaan daripada dirimu!”
            “Tidaaak! Tidak mungkin Merdayan mengkhianatiku!” Burniat Geram
            Tiba-tiba siang yang terang berubah mendung, semakin lama semakin tebal. Kilat sudah mulai menyambar diiringi suara petir yang menggelegar. Titik-titik hujan mulai turun.
            “ Kalau kau tidak percaya, pulanglah ke dusun. temanmu itu sedang berpesta menikmati hasilnya di kedai minuman. Maaf aku harus pergi.”       “Tunggu... Siapa  kau... atau siapa namamu?” Burniat penasaran.
            Sosok hitam itu  melemparkan sesuatu. “Itulah aku!” jawab Sosok hitam itu dan segera menghilang tanpa memberi kesempatan pada Burniat untuk membalasnya.
Burniat memungut benda yang dilempar oleh sosok hitam tadi.
            “Seruni...” Burniat bergumam sambil memegang sekuntum bunga seruni. Perkiraannya tentang sosok hitam adalah perempuan semakin kuat. Dari suaranya dan dari benda yang dilemparkannya sangat jelas mengarah ke sana.
            “Seruni...” ada getar-getar halus didadanya ketika ia menggumamkan kembali nama itu. Rasa kagum dan keingintahuannya merasuk ke dalam hatinya. Seperti apakah dia? Bisik hatinya.
            Burniat termenung di tengah derasnya hujan. Ia memutuskan kembali ke dusun sekaligus untuk membuktikan ucapan sosok hitam yang barusan ditemuinya. Derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya tak mampu memadamkan bara di hatinya.
            Tibalah Burniat di dekat Kedai yang di maksud oleh sosok hitam yang ditemuinya di dekat sungai.  Dari Balik rumpun bambu Burniat melihat banyak orang yang sedang mengaso di sana. Sebagian berbincang-bincang, tertawa- tawa. Semakin lama terdengar sebuah suara yang tertawanya paling keras.... menceracau tidak jelas. Burniat semakin penasaran ia sedikit maju ke depan. Dan terlihatlah olehnya sosok Merdayan sahabatnya sedang mabuk oleh minuman yang terbuat dari air pohon enau. Burniat geram apalagi sayup-sayup ia mendengar Merdayan menyebut-nyebut namanya dalam ceracauannya.
            “Ha ha ha ha haaa, Matilah kau Burniat... yang penting aku kayaaa hahaha.” Burniat semakin berang. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun, tangannya terkepal, kakinya mulai melangkah maju menuju kedai minuman itu. Namun, sebuah sentuhan di bahu belakangnya menghentikan langkahberikutnya. Burniat menoleh. Ia terkejut. Rajo Alam guru silatnya tiba-tiba ada dibelakangnya.
            “Urungkan niatmu, ada hal yang lebih penting yang harus kau lakukan di perguruan. Segeralah kita ke sana.” Ajak Rajo Alam.
            Sebuah tanda tanya besar dalam hati Burniat. Kalaulah bukan Rajo Alam yang menyuruhnya, tentulah ia tidak akan mengurungkan niatnya untuk menemui Merdayan dan mengikuti gurunya ke perguruan. Dengan kesumat yang menyala  Burniat mengikuti langkah Rajo Alam.

****
            “Seorang pemimpin itu harus berfikir jernih, sabar dan menjaga sikap” Nasihat Rajo Alam kepada Burniat.
            “Bagaimana aku bisa sabar Guru. Senjataku Tombak berhulu Nibung sudah hilang. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri.” Jawab Burniat Gusar
            “Tidak ada kekuatan yang lebih besar selain dari yang Maha Kuasa. Tidaklah kita boleh menandinginya dengan yang lain.”
            “Aku tahu Guru, Tapi tanpa senjata itu aku tidak bisa berbuat banyak.” Burniat menyesali.
            “ Tiada tempat bergantung selain Dia. Ini semua takdir Burniat.Dia yang Menentukan. Sang Maha Pencipta.” Burniat tercenung.
            “Lantas, apa yang harus aku lakukan Guru.”
            “Pergilah, sucikan dirimu. Aku akan mempersiapkan Belabar kecil. Kau harus berlatih di belabar kecil hingga bulan di muka.”
            “Baiklah Guru”.
                        Rajo Alam pergi mempersiapkan Belabar kecil yaitu latihan bertarung untuk menguji seorang murid. Luas belabar kecil ini kurang lebih 1 meter x 1.5 meter. Dimana seorang murid harus mampu menagkap dan mengunci lawan. Lawan yang dihadapi biasanya senior maupun guru.
            Sementara itu Burniat membersihkan dirinya dengan  langiran. Yang diberikan oleh ketua belabar. Pertama membasuh tangan dan kaki, lalu muka dengan air yang telah diberi ramuan berupa jeruk nipis, daun sedingin, daun setawar yang diletakkan dalam Belantan (Mangkuk) putih. Langiran ini sebagai sarana memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam prosesi belabar kecil.
            Burniat berlatih dalam belabar kecil didampingi oleh Rajo Alam gurunya. Selama itu pula Burniat memusatkan dirinya berlatih terus tanpa kenal lelah. Tanpa ada Tombak berhuluNibung yang dulu selalu menemani dalam pertarungannya.  Tekadnya sudah sangat bulat apapun yang terjadi ia harus menghadapinya meski nyawa taruhannya.
            Disamping berlatih Burniat juga terus berkordinasi dengan pemuda-pemuda kampung yang mendukungnya. Tak ada lagi Merdayan sahabatnya yang biasanya mendukungnya sudah tidak tampak batang hidungnya. Burniat benar-benar sendiri. Untunglah dukungan penduduk Dusun yang tertindas oleh Belanda menjadi penyemangat perjuangannya.
            Tibalah waktunya untuk melakukan perlawanan. 11 Mei 1873 Burniat dan pasukannya telah bersiap untuk melakukan perlawanan dengan semangat anti kolonialisme Burniat kembali  memimpin. Tombak, pedang, sewar, panah, telah bersiap. Burniat dan pasukannya menggebah kudanya ke medan laga.
            Namun apa yang dilakukan oleh Burniat dan kawan-kawan dianggap tergesa-gesa. Kurang perhitungan, persiapan  dan dukungan. Sehingga rencana perlawanan Burniat telah tercium oleh Belanda. Belum keluar lagi Burniat dan pasukannya dari dusun, Belanda dan pasukan Marsosenya telah sampai. Dengan persiapan Penuh pasukan Belanda menggempur Pasukan Burniat.
            Dusun Tanjung Terdana tercabik. Detuman meriam dan mortir milik Belanda meluluhlantakkan Dusun itu. Pasukan Burniat tercerai berai. Kepulan asap membumbung tinggi. Jeritan-jeritan histeris membahana ke seluruh kampung.
            Dalam kecamuk perang... Burniat dengan sekuat tenaga melawan Belanda. Tombaknya sudah berganti dengan sewar biasa. Ia menebas ke sana kemari. Sekelebat ia melihat sosok hitam diantara pasukan yang berkecamuk. Disisi lain ia pun melihat Merdayan sedang berlari.. menjauh. Cepat ia berlari menghadang langkah Merdayan.
Merdayan yang panik tidak melihat situasi hingga ia terkejut melihat Burniat menghadang langkahnya.
            “Burniat .... aku..” Belum sempat Merdayan menyelesaikan kalimatnya. Tiba- tiba seorang perwira Marsose Belanda yang telah tiba dibelakang Merdayan menembakkan  senapannya sehingga pelurunya menembus punggung Merdayan. Merdayan Roboh tanpa sempat berkata apapun. Burniat tertegun. Seseorang menjerit dan berlari ke arah Burniat. Seorang perempuan yang tak lain adalah Istri Merdayan dan juga sepupunya.
            “Ia sudah tiada...” Burniat lirih.
            Dalam balutan sedih Burniat mendengar derap langkah kuda. Terlihatlah dihadapannya seorang Belanda agaknya dia pemimpin pasukan marsose. Ditangannya tergenggam sebuah senjata. Tombak berhulu Nibung.
            “Tombakku?” Burniat bergumam
            “ Hahahaaaa Betul sekali Burniat. Ini tombak kamu orang punya. Tombak ini akan membawa kamu punya nyawa ke neraka. Senjata makan tuannya Hahahaha” si Belanda pongah.
            “Tidak, Burniat tidak boleh mati. Pergilah Burniat cepat!’’ Istri merdayan menghambur di depan burniat. Ingin membentengi dan menyuruh Burniat pergi.
            “Hahaha Kamu orang perempuan tidak berguna. Kamu susul saja itu kamu punya suami Hah!” Si Belanda mengokang senjatanya. Meluncurlah timah panas dari senjatanya.
            “Dorrr!!!” istri Merdayan Roboh.  Burniat Menanngkapnya.
            “Burniat.. aku minta maaf. Akulah yang telah membantu suamiku mengambil senjatamu... aku terpaksaaa...tolong maafkan aku...” Istri Merdayan menggapai tangan Burniat. Sebagai permohonan maaf. Setelah itu tak bergerak.
            “Awas! Di belakangmu! Seseorang berteriak. Burniat menoleh ke belakang Seorang Prajurit Belanda sudah dekat dan siap mengokang senjata. Ia belum sempat melihat orang yang meneriakinya. Tiba-tiba saja sesosok Hitam menabraknya hingga bergulingan di tanah. Mereka selamat dari pelor si prajurrit marsose.
            “ Hey, kenapa kamu tembak dia? Sekarang dia sudah kabur padahal sebentar lagi dia akan mati di tanganku. Kamu orang kerja tidak bagus.”  Sang komandan yang sudah siap mengeksekusi Burniat marah besar pada anak buahnya. Karena gagal membunuh Burniat dan Burniat pun sudah kabur di balik semak-semak bersama sosok hitam.
            Burniat terpana dengan jarak yang sanga dekat ia seperti melihat sosok Bidadari. Sosok hitam yang dilihatnya ternyata berwajah cantik. Burniat terpana...teringat akan sosok di pinggir sungai. Pikirannya menerawang jauh. Bercampur aduk kusut tak menentu.
            “Seruni?” ucap Burniat dalam keterpanaannya. Sosok hitam yang disebut Burniat dengan nama Seruni terdiam dalam keterpanaan pula. Ada suatu rasa yang sulit diurai diantara keduanya. Saat kedua mata bersitatap merangkai rasa di hati masing-masing.  
            Sosok hitam tersadar dari ketepanaannya, ia meraba penutup wajahnya yang sudah lepas. Mukanya bersemu merah. Segera ia berpaling dan pergi melesat secepat kilat. Masih terdengar olehnya ketika Burniat meneriakkan ucapan terimakasih dan harapan akan bertemu kembali. Seruni tersipu malu. Tapi bahagia.
                        Bara Amarah di dada Burniat semakin memerah. Ia menyerang membabi buta. Ke arah Belanda. Dengan sewar terhunus ia menyerang. Namun sekali lagi timah panas menghantam pahanya. Burniat limbung. Darah mengucur deras. Tapi ia terus merangsek. Tidak peduli akan sekitar. Hingga sebuah mata tombak menghunjam ke dadanya. Burniat Roboh...Tombak Berhulu Nibung memangsa tuannya.
            Seruni menangis, air matanya menitik. Melihat Burniat terkapar ditusuk oleh senjatanya sendiri. Tombak berhulu nibung yang dicuri Merdayan. Komandan Belanda itu menusukkannya tatkala Burniat sudah limbung dan tidak terkontrol lagi.  Seruni hanya dapat menyaksikannya dari kejauhan. Ia tak mampu berbuat banyak menolong Burniat dalam perang yang berkecamuk. Seorang pahlawan muda telah pergi disaat hatinya sedang berbunga. Seruni merasa seperti Pungguk dalam syair merindukan Bulan entah sampai kapan kan bersua lagi.
            Perlawanan segera terhenti. Pasukan Burniat yang tersisa segera melarikan diri. Beberapa tertangkap dan dibawa ke Bengkulu untuk dihukum dan dipenjarakan. Belanda meninggalkan Dusun dengan kemenangan dan meyisakan Duka yang mendalam di hati penduduk dusun  Tanjung Terdana.

**** Tamat****

*syair ini dikutip dari lirik lagu rejang  yang berjudul Nasieb oleh Ridwan Ch.













Biodata Penulis

Nama Lengkap            : NOVIANTI
Nama Pena                  : (Novie Noerman)
Alamat                        : Desa Medan Jaya Kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko
Alamat E-mail             : novie_noerman@yahoo.com/ novie_ noerman@gmail.com

No HP                                     : 087805058639

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam yang tak lelap

Sepenggal kisah bersama Ayah