Buluh Perindu
BULUH PERINDU By Novie Noerman Aku memandangi seraut wajah murung dihadapanku, seperti memikirkan suatu persoalan yang meresahkan hatinya. Ingin rasanya kuselami dasar hatinya dan mengetahui persoalan apakah itu? Mungkinkah karena kedatangan utusan raja Aceh kemarin? Berita apakah yang ia bawa? Sehingga menggundahkan hati tuanku . “Inang… inang!” Panggil tuanku Puteri Cempaka Gading. Aku tersentak dari lamunanku. “Eh, iya tuanku, ada apa?” Cepat kujawab panggilannya. “Mengapa Inang memandangiku sedemikian rupa? Adakah yang salah pada diriku?” Tanya tuanku Puteri Cempaka Gading. “Ah, tidak ada tuanku, sayo hanya sedang berfikir.” “Apa yang sedang Inang pikirkan?” tanya tuanku ingin tahu. “sayo…sayo…” Aku ragu. “Ayolah Inang, katakan saja, jangan takut.” Ia meyakinkanku. “Tuanku, hari ini sayo lihat tuanku berwajah murung dan resah, seperti memikirkan suatu persoalan yang berat. Apakah karena kedatangan utusan raja Aceh kemarin yang membuat hati tuanku gundah?...